Sistem Informasi Desa Keniten
Suasana di serambi PKD (Pusat Kesehatan Desa) Desa Wanayasa pagi itu terasa lebih gerah dari biasanya. Bidan Nur, yang sudah bertugas hampir lima tahun di sana, menghela napas panjang sambil merapikan tumpukan buku KIA. Di depannya, Bu RT sedang sibuk membantu menyusun kursi plastik untuk posyandu yang rencananya akan berkumpul hari ini.
"Bu RT, si Thole—anaknya Lastri—apa belum kelihatan juga?" tanya Bidan Nur pelan.
Bu RT menghentikan aktivitasnya, wajahnya berubah masam. "Itu dia, Bu Bidan. Tadi saya sudah mampir ke rumahnya. Lastri bilang si Thole lagi 'kena sawan'. Katanya, semalam habis dibawa lewat bawah pohon randu alas di pinggir desa, terus sekarang badannya panas tinggi."
Bidan Nur memijat pelipisnya. Ini bukan pertama kalinya. "Sawan" selalu menjadi tameng yang ampuh setiap kali jadwal imunisasi tiba. Di Wanayasa, meski kesadaran umum sudah mulai membaik, riak-riak logika mistika masih sering menyumbat jalur kesehatan masyarakat.
"Lastri takut si Thole tambah parah kalau kena jarum bidan. Katanya, kalau lagi kena sawan terus kemasukan 'benda tajam', rohnya bisa hilang," tambah Bu RT lirih.
Bidan Nur tidak tinggal diam. Ia menitipkan pos pada kader lainnya dan bergegas menuju rumah Lastri. Ia tahu, panas tinggi pada balita bukan urusan main-main yang bisa selesai hanya dengan semburan air sirih atau ikatan benang hitam di pergelangan tangan.
Sesampainya di rumah Lastri, bau kemenyan tipis tercium. Thole terbaring lemas di balai-balai, badannya menggigil. Lastri sedang sibuk mengoleskan parutan bawang merah ke seluruh tubuh anaknya.
"Las, anakmu ini demam. Kenapa nggak dibawa ke PKD?" Bidan Nur masuk dengan nada tegas namun tetap lembut.
Lastri menengadah, matanya sembab. "Mbah Buyut bilang ini sawan bangke, Bu Nur. Gara-gara kemarin ayahnya pulang magrib-magrib membawa 'sesuatu' dari sawah. Kalau disuntik sekarang, nanti anaknya malah bisa lumpuh karena rohnya kaget."
Bidan Nur duduk di samping Lastri, memegang tangan wanita itu. "Las, dengar saya. Saya ini cucu dari Eyang Sapu Jagad, maestro tradisi yang kita hormati. Kalau urusan menghormati leluhur, saya tahu betul. Tapi leluhur kita dulu juga orang-orang yang bijak soal pengobatan fisik. Gusti Allah kasih kita akal untuk mengobati yang kelihatan."
Ia mengeluarkan termometer. "Suhu Thole 39,5 derajat. Ini bukan sawan. Ini infeksi. Kalau dibiarkan, dia bisa kejang. Apa itu yang kamu mau?"
Lastri ragu. Di luar, beberapa tetangga mulai berbisik, menguatkan narasi mistis yang sudah turun-temurun. Namun, Bidan Nur tetap tenang. Ia menjelaskan bahwa imunisasi justru adalah 'jimat' modern yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk melawan musuh yang tidak kasat mata—yaitu kuman dan virus.
"Zaman dulu, jimat itu ikat pinggang. Sekarang, jimat itu ada di dalam darah lewat imunisasi ini. Biar Thole kuat, Las. Biar dia tidak terkena penyakit yang membuat badannya layu nantinya," Bidan Nur mencoba beranalogi.
Pertarungan batin terlihat di wajah Lastri. Akhirnya, tangisan Thole yang melengking karena panas yang menyiksa memecah kebimbangan itu.
"Tolong, Bu Nur... tolong obati anak saya," bisik Lastri akhirnya.
Sore harinya, saat panas Thole mulai turun setelah penanganan medis yang tepat, Lastri tampak duduk di selasar PKD, melihat para kader sedang menyiapkan makanan tambahan (PMT) dari hasil pertanian desa.
"Ternyata tidak seseram yang dibayangkan ya, Bu?" celetuk Bu RT sambil membawa semangkuk bubur kacang hijau.
Lastri tersenyum tipis, malu. Ia melihat Bidan Nur yang masih sibuk mencatat data imunisasi. Di Desa Wanayasa, perjuangan melawan penyakit ternyata bukan hanya soal obat dan jarum, tapi soal bagaimana memenangkan hati yang masih terkunci dalam kabut mitos masa lalu. Dan hari itu, Bidan Nur telah memenangkan satu lagi pertempuran kecil untuk masa depan generasi desa.