Sistem Informasi Desa Keniten
Mbah Hardo sering disebut "orang gila" oleh para pemuda yang biasa nongkrong di pos ronda. Di saat warga lain sibuk mencari cara agar tanah mereka bisa dibeli mahal, Mbah Hardo justru menghabiskan waktu memunguti sampah plastik di sungai dan menanam bibit pohon beringin di pinggir-pinggir lahan gersang.
"Buat apa, Mbah? Beringin itu angker. Lebih baik tanam beton, harganya naik tiap tahun," celetuk Juragan Brata, sang tuan tanah yang menguasai hampir separuh lahan di desa tersebut. Juragan Brata selalu tampil mencolok dengan cincin batu akik sebesar telur puyuh di tiap jarinya dan aroma parfum yang bisa tercium dari jarak lima meter.
Juragan Brata punya rencana besar: membangun kawasan pergudangan dan tempat pembuangan limbah sisa pabrik di lahan atas desa. Syaratnya cuma satu, beberapa pohon tua yang dianggap "penjaga mata air" oleh Mbah Hardo harus rata dengan tanah.
Konflik memuncak saat kemarau panjang mulai mencekik. Sumur-sumur warga mulai batuk, hanya mengeluarkan air keruh berwarna cokelat layaknya kopi susu yang kebanyakan gula. Di saat yang sama, alat berat milik Juragan Brata sudah terparkir manis di kaki bukit, siap merobohkan barisan pepohonan yang menjadi benteng terakhir desa.
"Bapak-Bapak, ini soal ekonomi!" seru Juragan Brata dalam pertemuan di balai warga, suaranya menggelegar layaknya juru kampanye. "Kalau gudang itu jadi, kalian bisa jadi kuli panggul, anak-anak kalian bisa kerja satpam. Daripada memandangi pohon beringin, emangnya beringin bisa kasih kalian nasi?"
"Beringin memang tidak kasih nasi, tapi dia kasih napas dan air yang sampeyan minum tiap hari, Juragan," sahut Mbah Hardo tenang.
"Halah, kolot! Air itu bisa beli!" tantang Juragan Brata sambil memamerkan botol air mineral mahal dari tasnya.
Keesokan harinya, kemarahan warga tak lagi terbendung. Ternyata, tumpukan sampah plastik dan sisa bahan bangunan dari proyek awal Juragan Brata menyumbat aliran hulu, membuat sisa air yang mengalir ke hilir berbau kimia. Kang Joko, warga yang paling vokal, memimpin aksi "demonstrasi kreatif".
Malam itu, mereka mengangkut ribuan sampah plastik yang mereka punguti dari sungai, lalu menumpuknya setinggi gunung tepat di depan gerbang rumah mewah Juragan Brata. Mereka juga memasang spanduk besar: "Taman Wisata Limbah – Persembahan Tuan Tanah Kita."
Pagi harinya, Juragan Brata keluar rumah dengan setelan safari necisnya, berniat meninjau proyek. Namun, ia langsung disambut aroma "surga" yang luar biasa busuk. Bau asam sampah yang membusuk bercampur aroma popok bekas meruap di udara, mengalahkan wangi parfum mahalnya.
"Apa-apaan ini?! Singkirkan ini semua!" teriak Juragan Brata sambil menutup hidung dengan sapu tangan sutra.
"Tenang Juragan, itu kan ekonomi!" teriak Kang Joko dari kejauhan. "Rencananya sampah-sampah ini mau kami jadikan monumen keberhasilan Juragan. Bagus kan buat latar foto?"
Suasana makin lucu saat salah satu anjing peliharaan Juragan Brata justru asyik mengacak-acak tumpukan sampah itu sampai ke teras rumah. Puncaknya, karena sumur di rumah mewahnya ikut tercemar limbah plastiknya sendiri, Juragan Brata terpaksa mandi menggunakan air mineral botolan yang ternyata tidak cukup untuk membilas sabun di badannya. Ia keluar rumah dengan kepala penuh busa, mengomel seperti ayam kena sampar.
Melihat kekacauan itu, dan sadar bahwa limbahnya mulai "menyerang balik" rumahnya sendiri, Juragan Brata akhirnya menyerah. Ia menandatangani kesepakatan untuk menghentikan proyek gudang dan membiarkan lahan di hulu tetap hijau.
Mbah Hardo hanya tersenyum tipis di bawah rindangnya pohon beringin yang selamat dari gergaji mesin. Ia kembali mencangkul tanah, menanam satu bibit lagi. Ia tahu, Tuan Tanah mungkin punya kuasa atas sertifikat, tapi alam punya cara sendiri untuk menagih hutang pada mereka yang lupa cara berterima kasih pada bumi.