Sistem Informasi Desa Keniten

Gambar Artikel

Horor Gaji Buta: Duel "Setan" Pengangguran

Kampung Bojong Serem sedang dilanda krisis eksistensial. Bukan karena harga cabai yang meroket, melainkan karena ubin keramik di kompleks Makam Keramat "Sari Wangi" hilang satu per satu secara misterius. Warga gempar. Isu yang beredar, ada tuyul yang baru saja ikut pelatihan konstruksi atau memang ada pencuri nekat yang hobi mengoleksi ubin kuburan.

Masalahnya satu: makam itu angker bukan main. Pohon kamboja di sana konon bisa berbisik, dan bau melati seringkali tercium padahal tidak ada yang menanamnya. Tak ada satu pun warga yang berani ronda di sana setelah magrib, bahkan preman pasar pun lebih memilih tidur di bawah kolong jembatan daripada harus lewat depan gerbang makam.

Melihat kondisi yang semakin gawat, Pak RT mengadakan rapat darurat.

"Siapa yang berani jaga makam, saya kasih upah 250 ribu per malam! Plus makan gratis dan asuransi nyawa kalau-kalau jantungnya copot," seru Pak RT.

Udin, pemuda pengangguran yang saldo rekeningnya sudah mencapai angka nol mutlak, langsung berdiri. Perut yang keroncongan ternyata lebih menyeramkan daripada kuntilanak mana pun.

"Saya sanggup, Pak!"


Malam pertama dimulai. Udin berdiri di depan cermin bangunan keranda di tengah makam. Wajahnya dipoles bedak putih merk murah sampai terlihat seperti mumi yang salah asuhan. Ia membungkus dirinya dengan kain kafan, lengkap dengan ikatan di atas kepala.

"Strategi jitu," bisik Udin gemetar. "Kalau ada maling, dia pikir aku pocong. Kalau ada pocong beneran, dia pikir aku saudaranya."

Udin pun mulai bertugas. Ia melompat-lompat kecil menuju gerbang utara. Blek... blek... blek... suara kakinya menghantam tanah di tengah kesunyian malam yang mencekam. Angin bertiup kencang, menggoyang dahan pohon asem tua yang terlihat seperti tangan raksasa yang hendak mencengkeramnya.

"Duh, kalau malingnya lewat pintu selatan gimana ya?" pikir Udin. Tapi ia terlalu malas (dan terlalu takut) untuk melompat sejauh itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk jongkok di bawah pohon asem, mencoba menyatu dengan kegelapan.

Dua jam berlalu. Suara jangkrik terdengar seperti ejekan bagi Udin. Kantuk mulai menyerang. Matanya terasa berat seberat dosa-dosanya.

"Kopi... butuh kopi," gumamnya.

Ia pun melompat kembali ke 'markas'—bangunan keranda—untuk mengambil termos. Di bawah temaram cahaya HP yang hampir mati, Udin meracik kopi saset. Bau aroma kopi mulai menyeruak, bercampur dengan bau kapur barus yang menyengat dari bangunan itu.

Sruput...

"Ah, mantap," Udin menyandarkan punggungnya ke dinding kayu. Ia menyalakan sebatang rokok, menikmati kepulan asapnya yang menari-nari di udara dingin.

Tiba-tiba, dari kejauhan—sekitar 20 meter—Udin melihat secuil cahaya kecil. Bergerak perlahan. Mendekat.

Udin membeku. Dadanya berdegup kencang seperti bass musik jedag-jedug.

Sesosok makhluk bergaun putih panjang muncul dari balik bayangan pohon. Rambutnya hitam, panjang, dan acak-acakkan menutupi wajah. Kakinya tidak terlihat menyentuh tanah. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan mata yang hitam pekat.

"K... K... Kuntilanak!" jerit Udin dalam hati.

Ia ingin lari, tapi nasib malang—ia lupa kalau kakinya sedang terikat kencang dengan kostum pocongnya. Ia mencoba berdiri, tapi malah jatuh terjungkal seperti nangka busuk. Udin pasrah. Ia menutup mata rapat-rapat, merapal semua doa yang diingatnya—mulai dari doa makan sampai doa masuk kamar mandi.

"Ya Allah, ampuni dosa Udin... Udin janji nggak bakal nyontek lagi kalau hidup lagi..."

Sosok kuntilanak itu kini sudah berada tepat di depan hidungnya. Bau anyir dan melati menusuk saraf penciumannya. Udin bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa. Tiba-tiba, kuntilanak itu berjongkok. Tangan putih pucatnya dengan kuku panjang menjangkau gelas kopi milik Udin.

Sruputtt...

Sosok itu meminum kopi Udin dengan nikmat. Lalu, tanpa dosa, ia merogoh saku gaun putihnya, mengeluarkan korek api, dan menyulut sebatang rokok milik Udin yang tergeletak di lantai.

Fuuuuuuu....

Kuntilanak itu menghembuskan asap rokok ke wajah Udin.

"Din... Dibayar berapa kamu sama Pak RT? Aku sih cuma deal di angka 200 ribu per malam, katanya anggaran lagi dipotong buat beli semen," suara kuntilanak itu berat dan serak, tapi sangat familiar.

Udin membuka satu matanya. Ia memperhatikan lebih teliti. "P... Paijo?"

Kuntilanak itu menyibakkan rambut panjangnya yang ternyata adalah rambut palsu dari rumbai-rumbai tali rafia hitam. Wajahnya yang pucat ternyata hanya tumpukan bedak tabur dan coretan spidol hitam di mata.

"Iya, ini aku. Sialan, kamu jadi pocong ya Din? Pantas aja dari tadi bau parfum melati kamu menyengat banget," ujar Paijo sambil nyengir lebar, memperlihatkan giginya yang kuning.

Udin langsung lemas. Air matanya hampir tumpah karena lega sekaligus kesal. "Paijo! Kurang ajar! Aku hampir mati serangan jantung, tahu!"

"Heleh, namanya juga cari duit, Din. Pak RT bilang harus ada dua orang yang jaga, tapi nggak boleh saling tahu biar nggak malah ngerumpi bareng. Aku jaga di gerbang selatan, eh... kok malah haus, ya aku ke sini," jelas Paijo santai.

Malam itu, bukannya suasana horor yang tercipta, makam "Sari Wangi" malah riuh dengan suara tawa dua "setan" gadungan yang asyik ngopi dan ngerumpi. Sejak saat itu, tidak ada satu pun maling yang berani mendekat. Kabar bahwa makam tersebut kini dijaga oleh "Pocong perokok" dan "Kuntilanak tukang kopi" menyebar luas ke penjuru kampung.

Keramik makam aman, dan dua pemuda itu akhirnya punya penghasilan tetap, meski harus rela dicap sebagai setan oleh warga satu kecamatan.

Tulis Komentar