Sistem Informasi Desa Keniten

Gambar Artikel

Cerpen: ANTARA ATAP BOCOR DAN CITA-CITA

Di sebuah sudut Desa Karang Mulya yang jalannya lebih banyak lubang daripada aspalnya, hiduplah Pak Bakri, seorang guru SD yang kesabarannya setebal buku paket kurikulum lama. Setiap pagi, ia harus berduel dengan sepeda motor tuanya yang bersuara seperti batuk kering naga tua. Sementara itu, istrinya, Bu Ratna, sudah sibuk di warung kecil pinggir jalan, menggoreng bakwan yang ukurannya sengaja diperlebar agar terlihat mewah meski isinya lebih banyak tepung daripada sayur.

Masalah finansial mulai menghampiri saat surat tagihan semesteran anak sulungnya, Fajar, yang kuliah di luar kota datang bersamaan dengan bocornya atap ruang tamu. "Pak, atap kita ini sepertinya ingin ikut merayakan Hardiknas, buktinya dia memberikan 'pancuran air' gratis setiap kali hujan," sindir Bu Ratna sambil menaruh ember di tengah ruangan. Bakri hanya tersenyum getir, menghitung sisa gajinya yang jika dilihat-lihat lebih mirip angka harapan hidup daripada angka kemakmuran.

Anak kedua mereka, Gilang, yang masih duduk di bangku SMP, hanya bisa memandangi motor bapaknya yang kembali mogok saat mau berangkat sekolah. "Bapak, motor ini sebaiknya dimasukkan ke museum saja, atau kita beri gelar 'Pahlawan Transportasi' karena masih kuat menanjak meski napasnya sudah Senin-Kamis," canda Gilang sambil membantu mendorong. Bakri tertawa, menyeka keringatnya dengan sapu tangan lusuh yang warnanya sudah tidak bisa diidentifikasi lagi.

Malamnya, saat makan malam dengan menu tempe yang diiris setipis kartu ATM, mereka menerima telepon dari Fajar di kota seberang. Fajar bercerita tentang biaya buku yang mahal dan harga kos yang naik, namun ia tetap bersemangat karena nilai IPK-nya cemerlang. Bu Ratna menelan ludah, membayangkan warungnya harus menjual berapa ribu bakwan lagi untuk menutup selisih biaya tersebut, namun suaranya di telepon tetap terdengar riang.

"Jangan khawatirkan rumah, Jar. Bocor sedikit itu seni, biar kita tidak lupa rasanya alam terbuka," ujar Bakri lewat telepon dengan nada komedi satir yang kental. Ia sengaja menyembunyikan fakta bahwa tadi siang ia hampir terjatuh karena ban motornya meletus di tengah jalan sepi. Baginya, beban berat di pundak adalah investasi yang tidak boleh diketahui oleh sang penerima manfaat.

Keesokan harinya, bertepatan dengan 2 Mei 2026, Bakri berdiri tegap di lapangan sekolah memimpin upacara Hardiknas dengan seragam yang sudah mulai menguning di bagian ketiak. Dalam amanatnya, ia tidak bicara soal teori muluk-muluk, melainkan soal daya tahan. "Pendidikan itu bukan sekadar ijazah untuk cari kerja, tapi cara agar kita tidak mudah ditipu oleh kerasnya hidup," ucapnya, teringat cicilan motor yang belum lunas.

Di warung, Bu Ratna melayani pelanggan dengan daster favoritnya yang penuh tambalan. Seorang pelanggan bertanya mengapa ia tidak membeli daster baru, dan ia menjawab dengan tenang, "Kain ini masih kuat menahan keringat, Mas. Uang barunya lebih baik dipakai untuk beli masa depan anak saya di universitas". Ada kebanggaan yang terselip di balik suara seraknya, sebuah keyakinan bahwa setiap rupiah yang masuk ke kotak kayu warungnya adalah tangga menuju derajat yang lebih tinggi.

Sore itu, Bakri dan Ratna duduk di teras sambil memandangi Gilang yang sedang belajar dengan tekun di bawah lampu yang sesekali berkedip mau mati. "Kita mungkin kalah dalam urusan harta, tapi kita harus menang dalam urusan memanusiakan anak," bisik Bakri sambil memegang tangan istrinya yang kasar karena minyak goreng. Mereka sepakat bahwa rumah yang rusak bisa diperbaiki nanti, tapi otak yang kosong adalah kerusakan permanen bagi sebuah bangsa.

Bakri kembali mengutak-atik motor mogoknya, sementara Bu Ratna menyalakan kompor warung.

Tulis Komentar