Sistem Informasi Desa Keniten

Gambar Artikel

Cerpen: Merajut Harapan dari Keringat

Di sebuah gubuk yang dinding bambunya mulai rontok di sudut Desa Tirta Kencana, aroma kopi tubruk beradu dengan bau tanah basah. Sastro, seorang buruh tani yang punggungnya sudah melengkung serupa kurva arit, sedang mencoba memakai capingnya yang robek.

"Jangan dipaksakan, Pak. Pinggangmu itu sudah bunyi krak setiap kali rukuk di sawah," ujar Marni, istrinya, sambil membungkus nasi liwet dengan daun pisang. Marni sendiri adalah buruh tani yang jemarinya sudah kapalan permanen karena puluhan tahun menancapkan bibit padi.

"Halah, krak itu tanda mesinnya masih jalan, Bune. Kalau diam saja malah karatan," jawab Sastro sambil terkekeh pelan, meski wajahnya meringis menahan nyeri.

Hari ini adalah 1 Mei 2026. Bagi mereka, ini bukan hari libur, melainkan hari untuk berharap lebih dari sekadar upah harian yang seringkali habis sebelum matahari terbenam. Di meja makan kayu yang goyang, berkumpul anak-anak mereka. Wawan, anak sulung yang bekerja sebagai buruh bangunan, duduk dengan bahu tegap namun tangan penuh bekas semen kering. Di sampingnya, Sari, yang bekerja sebagai karyawan toko, tampak sibuk merapikan seragamnya yang mulai pudar warnanya.

"Bapak, Ibu, hari ini teman-teman di kota sedang demo besar," Wawan memecah kesunyian. "Mereka menuntut upah layak. Katanya, kalau ekonomi kuat, Indonesia baru bisa maju."

Sastro menghentikan kunyahannya. "Demo itu baik kalau niatnya lurus. Bapak cuma mau, sekolah si kecil Ratri jangan sampai putus seperti bapakmu ini." Matanya melirik ke arah Ratri, putri bungsu mereka yang masih kecil dan asyik membaca buku di pojok ruangan. Ratri adalah harapan besar mereka agar kelak ada anggota keluarga yang menyandang gelar tinggi dan tak perlu lagi beradu keringat dengan terik matahari.


Siang harinya di kota, Wawan ikut berdiri di barisan massa. Suasana sangat dramatis: ribuan buruh berteriak di bawah terik matahari, poster-poster bertuliskan "Kerja Layak, Perut Kenyang" diangkat tinggi-tinggi.

Di tengah ketegangan itu, terselip komedi getir. Seorang orator berteriak melalui pelantang suara, "Kita kerja bagai kuda, tapi makan bagai... bagai apa teman-teman?!"

Seorang buruh di samping Wawan menjawab dengan polos, "Bagai kuda juga, Mas! Kan makannya cuma rumput rebus alias kangkung setiap hari!" Gelak tawa getir pecah di tengah kerumunan itu.

Wawan tersenyum, tapi hatinya perih. Ia teringat adiknya, Sari, yang setiap hari berdiri sepuluh jam di toko, menyusun barang di rak hingga kakinya varises, demi membantu biaya sekolah Ratri agar bisa kuliah di universitas yang lebih baik.


Sore harinya, hujan turun membasahi Desa Tirta Kencana. Sastro dan Marni pulang dengan baju berlumpur. Mereka hanya mendapat upah harian yang jika dibelikan beras, hanya cukup untuk makan beberapa hari ke depan.

"Pak, tadi saya dengar di radio, katanya pemerintah janji akan memperhatikan kesejahteraan buruh tani dan harian lepas tahun ini," Marni berbisik sambil memijat bahu suaminya.

Sastro menatap ke arah sawah yang mulai menggelap. "Kita sudah menunggu puluhan tahun, Bune. Tapi selama Ratri masih bisa sekolah dan kakak-kakaknya masih punya semangat, harapan itu tidak akan mati."

Martabat seorang manusia tidak diukur dari seberapa besar upahnya, melainkan dari seberapa besar pengorbanannya untuk memastikan generasi berikutnya memiliki nasib yang lebih baik. Di Desa Tirta Kencana, perjuangan itu belum usai, dan setiap tetes keringat adalah doa yang tak putus-putus untuk masa depan yang lebih layak.

Tulis Komentar