Sistem Informasi Desa Keniten

Gambar Artikel

Cerpen: Notifikasi dari Masa Lalu

Kopi di depan Kartini sudah dingin, sedingin draf surel yang tak kunjung ia kirim. Namanya memang Kartini, sebuah beban sejarah yang diberikan ayahnya dengan harapan ia menjadi "penerang". Namun, di usianya yang ke-28, ia merasa lebih seperti lampu bohlam yang berkedip hampir mati di sebuah agensi periklanan Jakarta.

"Tini, klien minta revisi lagi. Mereka bilang persona perempuannya terlalu... 'liar'. Bisa dibuat lebih lembut? Kamu tahu lah, the typical Indonesian sweetheart," suara manajernya, sapaan akrabnya Rio, terdengar santai tapi menekan.

Kartini memutar kursi kerjanya. "Liar itu maksudnya karena dia punya opini, Yo? Karena dia nggak mau pakai produk pemutih yang kita jual?"

Rio terkekeh, menyandarkan tubuh di meja Kartini. "Ini bisnis, Tin. Kita jual mimpi, bukan revolusi. Lagian, kamu kenapa sih belakangan ini sensitif banget? Efek jomblo kelamaan ya? Nyokap lo telepon gue kemarin, nanya kapan lo cuti buat pulang kampung... ada 'kenalan' katanya."

Kartini terdiam. Pukulan ganda. Di kantor ia harus menjinakkan idealisme demi cuan, di rumah ia harus menjinakkan diri demi tradisi.

Ruang Diskusi Digital

Malamnya, Kartini melarikan diri ke satu-satunya tempat di mana ia bisa bernapas: sebuah forum diskusi sejarah dan feminisme tersembunyi. Ia mengetik dengan ID 'PanggilAkuKartiniSaja'.

PanggilAkuKartiniSaja: Apa gunanya kita bisa sekolah tinggi, bisa kerja, bisa punya gaji sendiri, kalau pada akhirnya standar kesuksesan kita tetap ditentukan oleh seberapa cepat kita mengganti status di KTP dari S-1 menjadi Kawin?

Sebuah balasan masuk hanya dalam hitungan detik.

Stella_85: Dulu pingitan itu tembok kayu dan jeruji besi. Sekarang pingitannya adalah algoritma dan ekspektasi 'perempuan harus multitasking'. Kamu nggak cuma harus pintar cari uang, tapi juga harus cantik menurut standar Instagram, dan tetap jago urus domestik. Kita cuma pindah dari satu kotak ke kotak lainnya.

Kartini tersenyum getir. Ia teringat surat-surat Kartini asli kepada Stella Zeehandelaar. Ratusan tahun berlalu, dan mereka masih membicarakan hal yang sama, hanya lewat medium yang berbeda.

Puncak Konflik

Hari Minggu itu, rumah makan di bilangan Jakarta Selatan menjadi saksi bisu. Ibunya datang membawa "si kenalan"—seorang pria mapan, sopan, dan memiliki pandangan hidup yang sangat... tradisional.

"Kartini kan sudah mapan sekarang. Tapi perempuan itu sehebat apa pun, kodratnya tetap di rumah, mendampingi suami," ucap pria itu, sebut saja namanya Andi, dengan nada yang sangat meyakinkan.

Ibunya tersenyum bangga. "Betul itu, Nduk. Jabatan itu cuma titipan, keluarga itu selamanya."

Kartini meletakkan sendoknya. Bunyi denting logam itu terdengar nyaring.

"Mas Andi," suara Kartini tenang namun tajam. "Kodrat itu biologis: menstruasi, hamil, menyusui. Sisanya—masak, urus rumah, mencari uang—itu peran sosial. Mas mau pendamping atau mau asisten rumah tangga yang nggak digaji?"

Meja itu hening. Ibunya berdehem panik.

"Duh, dia emang suka bercanda, Mas Andi. Efek baca buku kebanyakan," potong ibunya.

"Aku nggak bercanda, Bu," Kartini menatap ibunya dengan tatapan yang sudah ia pendam bertahun-tahun. "Dulu RA Kartini dilarang sekolah karena dianggap menyalahi aturan. Sekarang, Ibu menyuruhku berhenti mengejar mimpi hanya karena takut aku 'terlalu pintar' buat laki-laki? Bukannya pendidikan itu untuk mencerdaskan generasi? Bagaimana aku bisa mendidik anakku nanti kalau aku sendiri dipaksa jadi orang bodoh di rumah sendiri?"

Akhir yang Terbuka

Kartini tidak menunggu jawaban. Ia berjalan keluar, menghirup udara Jakarta yang penuh polusi namun terasa lebih lega dari ruang makan tadi.

Ia merogoh ponselnya, membuka draf surel yang ia diamkan tadi pagi. Ia menghapus semua revisi yang diminta Rio. Ia menulis argumen baru: sebuah kampanye iklan yang jujur tentang perempuan yang berdaya, tanpa filter pemutih, tanpa skrip tunduk.

Ia menekan tombol Send.

Notifikasi masuk di ponselnya. Bukan dari ibunya, bukan dari Rio. Sebuah pesan otomatis dari kalender ponselnya yang ia setel bertahun-tahun lalu sebagai pengingat.

21 April: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini tersenyum. Terang itu tidak datang dari matahari yang terbit, pikirnya. Terang itu datang dari jari-jari yang berani menyalakan saklarnya sendiri.


Tulis Komentar