Sistem Informasi Desa Keniten
Tahun 1992 adalah tahun di mana bagi Susilo, musuh paling mengerikan bukanlah hantu, melainkan omelan Ibunya yang setajam silet pemotong rumput.
Sore itu, di pinggiran
desa yang masih didominasi sawah dan gelapnya kebun albasia, Susilo melakukan
kesalahan fatal: Lupa waktu. Saat langit mulai
berubah warna menjadi jingga yang muram—pertanda maghrib segera tiba—ia baru
lari terbirit-birit menuju rumah barunya.
"Waduh, bisa
digantung di pohon duren aku kalau lewat pintu depan," gumamnya
megap-megap.
Susilo mengatur
strategi. Ia menyelinap lewat kebun belakang, berharap bisa masuk lewat pintu
dapur. Namun, rencananya hancur berantakan. Di sana, tepat di ambang pintu yang
menghadap kebun, sang Ibu sedang duduk tegak layaknya penjaga gerbang istana.
Wajahnya datar, tangannya memegang sapu lidi.
"Mampus,"
bisik Susilo. "Ibu sepertinya sudah tahu niat busukku."
Sembunyi di Antara Talas
Susilo mundur teratur.
Ia berjongkok di balik rimbunnya daun talas yang lebar-lebar. Sesekali ia
pindah ke saung kayu di tengah kebun, lalu mengintip lagi ke arah pintu. Satu
jam berlalu. Ibunya masih di sana, tak bergerak, seolah-olah dia sedang
melakukan meditasi tingkat tinggi untuk menangkap anaknya.
Karena lelah bermain
seharian dan bosan menunggu "intel" di pintu dapur bergeser, mata
Susilo mulai berat. Angin malam di kebun yang dingin justru terasa seperti
selimut. Di sela-sela suara jangkrik, Susilo pun terlelap dengan suksesnya di
atas bangku saung.
Konser Panci Nasional
TENG! TENG! TENG! DUARRR!
Susilo melonjak kaget.
Jantungnya hampir copot. Ia terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena
suara gaduh yang luar biasa. Dari arah perkampungan, terlihat cahaya obor
menari-nari mendekati kebunnya.
"SUSILOOO! BALIK,
LE! BALIK!"
"TOK TOK TOK!
NYOOOH, WEDI O!" (Ini, takutlah kau!)
Suara wajan dipukul,
panci ditabuh, dan teriakan warga membelah keheningan malam. Susilo panik. Ia
menyadari satu hal: Warga kampung sedang melakukan ritual memburu Kelong Wewe. Dan sasaran penyelamatannya adalah...
dirinya sendiri.
"Aduh, kalau aku
keluar sekarang dan bilang cuma ketiduran, Ibu pasti tahu aku bohong soal main
di mana tadi sore," pikirnya cepat.
Melihat rombongan
warga yang makin dekat dengan semangat membara (dan senjata dapur yang
lengkap), Susilo mengambil keputusan darurat. Ia memanjat pohon rambutan
secepat monyet yang ketakutan. Dari atas pohon, ia melihat pemandangan absurd:
Bapaknya memukul-mukul tutup panci dengan wajah pucat, sementara Ibunya
menangis histeris sambil memanggil namanya.
"Kasihan sih,
tapi kalau aku turun sekarang, hargadiriku sebagai anak pemberani hancur.
Lagipula, siapa yang percaya aku sembunyi dari Ibu di bawah daun talas?"
Kebohongan yang "Masuk Akal"
Setelah beberapa jam
pencarian yang melelahkan—dan mungkin setelah semua wajan di kampung itu
penyok—warga akhirnya menyerah. Mereka yakin Susilo sudah dibawa ke dimensi
lain oleh si hantu berpayudara panjang itu. Kebun kembali sepi. Susilo turun
dari pohon dengan kaki kesemutan, lalu melanjutkan tidurnya di saung hingga
pagi.
Pagi harinya, dengan
wajah dibuat selesu mungkin, Susilo mengetuk pintu depan.
Tok... tok... tok...
Pintu terbuka. Ibunya,
dengan mata sembab, langsung menjerit dan memeluknya. Seluruh keluarga
berkumpul. Ayahnya bertanya dengan nada serius yang amat mistis, "Silo,
kamu di mana semalam? Jujur sama Bapak."
Susilo melihat wajah
orang-orang di sekitarnya. Mereka semua menunggu cerita tentang dimensi gaib,
tentang disuapi cacing, atau tentang disembunyikan di bawah ketiak Kelong Wewe.
Jika ia berkata, "Aku cuma tidur di saung karena takut
diomeli Ibu," ia pasti dianggap sedang meracau atau malah
dihajar karena bikin geger satu kecamatan.
Maka, Susilo menarik
napas dalam-dalam dan memulai aktingnya.
"Silo nggak tahu,
Pak... Kemarin sore Silo main di kebun, terus rasanya ngantuk sekali. Kayak ada
yang ngajak tidur. Silo baru sadar tadi pagi di bawah pohon, tiba-tiba sudah
terang," ucapnya dengan nada polos yang dibuat-buat.
Para tetangga yang
ikut mendengar langsung mengangguk-angguk paham.
"Tuh kan, bener!
Pasti dibawa Kelong itu!"
"Untung kita
tabuh panci semalam, jadi jinnya silau!"
"Kamu hebat,
Silo, bisa lolos dari dunia sana!"
Susilo hanya bisa
tersenyum kecut. Di dalam hatinya, ia menyadari sebuah kebenaran pahit di era
90-an: Terkadang, menjadi korban penculikan hantu jauh lebih aman
daripada mengakui kesalahan di depan orang tua.
Sejak hari itu, Susilo dikenal sebagai "Anak yang Pernah Dicuri Kelong", sebuah gelar kehormatan yang ia dapatkan hanya karena takut pada sebuah sapu lidi.