Sistem Informasi Desa Keniten
Di sebuah desa yang kerap diselimuti kabut tipis di kaki bukit, hiduplah seorang pria bernama Mbah Darmo. Ia adalah seorang buruh serabutan yang tenaganya mulai digerogoti usia. Saban hari, ia mengumpulkan barang bekas atau membantu warga mengangkut hasil panen demi upah yang tak seberapa.
Satu-satunya sandaran hidupnya adalah selembar kartu plastik kusam—kartu bantuan sosial dari pemerintah. Baginya, kartu itu adalah nyawa. Di dalamnya ada jatah beras dan sedikit uang tunai yang memastikan ia dan cucu semata wayangnya, yang masih duduk di bangku sekolah dasar, bisa makan esok hari.
Senja itu, Mbah Darmo berteduh di sebuah warung kopi. Di pojok ruangan, ia melihat pemuda-pemuda desa tertawa riuh menatap layar ponsel mereka.
"Mbah, ini lho, cuma modal sepuluh ribu bisa jadi sejuta. Lihat ini, si Jono baru saja dapat 'petir'," ujar salah satu pemuda sembari memamerkan saldo di layar ponselnya yang berpendar warna-warni.
Mbah Darmo terdiam. Pikirannya melayang pada sepatu cucunya yang sudah menganga solnya, juga biaya SPP yang sudah nunggak dua bulan. Logikanya yang sederhana mulai goyah oleh keputusasaan. Dengan tangan gemetar, ia meminta tolong pemuda itu untuk mendaftarkannya menggunakan sisa uang di sakunya.
"Sekali saja," bisiknya dalam hati. "Hanya sampai sepatu itu terbeli."
Satu malam berubah menjadi seminggu. Kemenangan kecil di awal—yang sebenarnya hanyalah umpan—membuatnya mabuk. Uang upah mengangkut padi habis dalam sekejap. Hingga puncaknya, saat saldo di sakunya benar-benar nol, ia nekat menggunakan NIK dan data dari kartu bantuannya untuk meminjam modal pada aplikasi pinjaman ilegal demi mengejar kekalahan di situs judi tersebut.
Pagi itu, Mbah Darmo pergi ke balai desa dengan langkah ringan. Hari ini adalah jadwal pencairan bantuan. Ia sudah membayangkan akan membelikan cucunya sepatu baru dan sebungkus nasi padang.
Namun, saat kartu dicek, petugas menggeleng. "Maaf, Mbah. Data NIK Mbah sudah diblokir dari daftar penerima bantuan. Ada catatan transaksi ilegal dan keterlibatan dengan situs terlarang."
Dunia seolah runtuh. Mbah Darmo tersungkur di lantai semen yang dingin. Ia mencoba menjelaskan bahwa ia hanya ingin membelikan cucunya sepatu, namun aturan tetaplah aturan. NIK-nya telah tercemar, dan haknya sebagai rakyat kecil dicabut tanpa ampun.
Malamnya, rumah kayu Mbah Darmo terasa lebih dingin dari biasanya. Cucunya tidur meringkuk tanpa tahu bahwa besok mungkin tak ada lagi nasi di atas meja. Mbah Darmo duduk di amben kayu, menatap layar ponsel retaknya yang masih menampilkan notifikasi "Coba Lagi" dari situs judi tersebut.
Ia menangis tanpa suara. Air matanya jatuh di atas kartu bantuan sosial yang kini tak lebih dari selembar plastik sampah.