Sistem Informasi Desa Keniten
Malam itu, Marno merasa seperti nelayan paling tangguh di jagat raya. Dengan setumpuk cacing tanah di plastik bekas es mambo dan sebatang joran pancing bambu, dia duduk di pinggir sungai hingga jam dua pagi. Suasananya sunyi, hanya ada suara jangkrik yang sedang latihan paduan suara dan bunyi air mengalir. Marno sedang on fire karena baru saja berhasil menarik ikan gabus seukuran betis orang dewasa.
"Satu tarikan lagi, baru pulang," gumamnya penuh ambisi. Dia tidak peduli jika malam itu adalah malam Jumat Kliwon, malam yang menurut orang tua-tua adalah jam dinasnya para makhluk halus.
Sekitar pukul setengah tiga dini hari, Marno memutuskan untuk pulang. Dengan ember berisi ikan dan joran di pundak, dia melewati jalan setapak membelah kebun kopi yang gelapnya minta ampun. Pohon-pohon kopi di kanan-kirinya tampak seperti bayangan raksasa yang ingin menculiknya.
Tiba-tiba, dari balik semak pohon kopi yang rimbun, muncullah sesosok putih panjang. Sosok itu melayang pelan, melintas tepat di depan hidung Marno. Wajahnya pucat pasi, matanya melotot, dan kain kafannya berkibar-kibar ditiup angin malam.
Otak Marno seketika hang. Seharusnya dia lari atau baca Ayat Kursi, tapi yang keluar justru insting bertarung ala Mike Tyson.
"WADAAAWWW!" teriak Marno bukan karena takut, tapi karena kaget yang luar biasa.
Reflek, kaki kanan Marno melesat melakukan tendangan superkick tepat ke arah perut sosok itu. Belum sempat sosok itu mengaduh, Marno sudah menangkap lehernya, membantingnya ke tanah dengan teknik smackdown, lalu menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi layaknya sedang memukul kasur berdebu.
Setelah merasa "ancaman" itu tidak berkutik, baru kemudian rasa takut yang sebenarnya datang menyerang. Marno sadar dia baru saja menghajar hantu. "LARI... ADA POCONG GALAK!" teriaknya sambil lari tunggang-langgang, meninggalkan ikan gabus dan jorannya yang berhamburan.
Keesokan harinya, Marno bangun dengan perasaan bersalah yang amat sangat. Dia merasa harus bertaubat karena sudah berurusan dengan makhluk gaib secara kasar. Maka, dia mandi besar, memakai baju koko terputihnya, dan berangkat ke masjid untuk salat Jumat sangat awal. Dia bahkan berhasil duduk di saf paling depan, tepat di bawah mimbar.
"Aku harus jadi orang saleh mulai hari ini," batin Marno sambil tertunduk khusyuk membaca zikir.
Suasana masjid mulai tenang. Saat muazin selesai azan, sang khatib pun berdiri untuk naik ke mimbar. Marno mendongak sedikit untuk melihat siapa ulama yang akan memberikan pencerahan hari ini.
Seketika, jantung Marno seolah mau copot dari tempatnya.
Sang khatib naik ke mimbar dengan langkah yang sedikit pincang. Ketika beliau menoleh ke arah jamaah, wajahnya tampak seperti habis kecelakaan beruntun: mata kirinya biru lebam, pipi kanannya bengkak sebesar bakso urat, dan ada plester melintang di dahinya.
Marno membeku. Suara sang khatib terdengar parau saat memulai khotbahnya.
"Jamaah salat jumat yang dirahmati Allah... Marilah kita meningkatkan ketakwaan kita... Dan marilah kita berdoa agar desa kita dijauhkan dari segala macam marabahaya, terutama... dari remaja-remaja yang kalau kaget kakinya suka nendang sembarangan..."
Marno langsung tertunduk sedalam-dalamnya. Dia pura-pura sibuk memperbaiki lipatan sarungnya saat sang khatib menatap tajam ke arah saf depan, tepat ke arah Marno yang berkeringat dingin.
Ternyata, semalam sang khatib sedang melakukan tadarus keliling dan ingin mengambil jalan pintas lewat kebun kopi dengan memakai jubah putih kebanggaannya. Sialnya bagi sang khatib, dia bertemu dengan "pendekar pancing" yang sedang khilaf.
Siang itu, Marno adalah orang pertama yang lari keluar masjid bahkan sebelum zikir selesai. Bukan karena takut hantu, tapi takut ditagih biaya pengobatan rumah sakit.