Sistem Informasi Desa Keniten
KENITEN – Jika berbicara tentang kuliner khas Banyumasan, tidak ada yang lebih ikonik daripada Mendoan. Bagi warga Desa Keniten dan sekitarnya, mendoan bukan sekadar camilan pendamping teh hangat, melainkan simbol budaya yang telah diakui secara nasional.
Banyak yang bertanya, apa sebenarnya yang membuat mendoan asli Purwokerto begitu istimewa dan berbeda dengan tempe goreng tepung di daerah lain?
Nama mendoan diambil dari bahasa Jawa dialek Banyumasan, yaitu "Mendo", yang berarti setengah matang atau lembek. Secara filosofis, tekstur yang fleksibel ini sering dikaitkan dengan karakter masyarakat Banyumas yang dikenal luwes, mudah beradaptasi, namun tetap memiliki isi (prinsip) yang kuat di dalamnya.
Mendoan yang autentik tidak menggunakan tempe balok yang diiris. Rahasianya terletak pada penggunaan tempe khusus yang dibuat tipis di dalam bungkus daun pisang atau daun jati. Proses fermentasi yang terjadi dalam bungkusan tipis ini menghasilkan aroma kedelai yang lebih tajam dan tekstur yang lebih menyatu dengan bumbu saat digoreng.
Dapur warga Keniten tentu sudah tidak asing dengan racikan bumbu mendoan. Namun, untuk menghasilkan rasa yang benar-benar "asli", terdapat komposisi bumbu yang tidak boleh terlewatkan:
Kencur dan Ketumbar: Memberikan aroma harum yang khas dan rasa gurih yang dalam.
Daun Bawang (Loncang): Irisan daun bawang yang melimpah dalam adonan tepung terigu memberikan kesegaran pada setiap gigitan.
Teknik Sekali Celup: Mendoan harus digoreng dalam minyak yang sangat panas (panas membara) namun dalam waktu yang sangat singkat. Teknik ini memastikan tepung matang dan mengembang tanpa membuat tempe menjadi keras atau garing.
Menikmati mendoan tidak lengkap tanpa sambal kecap. Perpaduan manisnya kecap kental dengan pedasnya irisan cabai rawit hijau menciptakan harmoni rasa yang sempurna, terutama jika dinikmati selagi panas saat cuaca sedang gerimis.
Perlu diketahui oleh seluruh warga Desa Keniten, bahwa sejak tahun 2021, Mendoan telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh Pemerintah Pusat. Hal ini menegaskan bahwa tugas kita sebagai warga lokal adalah terus melestarikan kuliner ini, baik melalui usaha mikro di desa maupun dengan memperkenalkannya kepada tamu yang berkunjung ke wilayah kita.
Melalui artikel ini, diharapkan masyarakat Desa Keniten semakin bangga akan kekayaan lokal yang kita miliki. Mari terus dukung para pengrajin tempe dan penjual mendoan di lingkungan desa kita sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal.