Sistem Informasi Desa Keniten
Bagi masyarakat Banyumas, nama Raden Kamandaka (atau Raden Banyak Catra) adalah sosok pahlawan legendaris dari Kerajaan Pajajaran yang pengembaraannya membentuk jati diri wilayah kita. Watu Sinom dipercaya sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan sang pangeran muda tersebut.
Secara etimologi, kata Sinom dalam bahasa Jawa merujuk pada "daun yang masih muda" atau kiasan untuk masa muda. Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, situs batu ini menjadi penanda masa pengembaraan Raden Banyak Catra saat ia masih berusia muda (Sinom) dan sedang menyamar untuk mencari jati diri serta cinta sejatinya, Dewi Ciptarasa.
Keberadaan Watu Sinom di Desa Keniten menjadi bukti tutur bahwa wilayah kita sejak dahulu merupakan perlintasan strategis dan tempat persinggahan tokoh-tokoh besar di masa lalu.
Dalam literatur sejarah seperti Babad Pasir, wilayah di sekitar Purwokerto dan Karanglewas memang menjadi panggung utama peristiwa sejarah-legendaris ini. Meskipun peta kolonial tahun 1901 tidak mencantumkan nama situs ini secara spesifik—karena sifatnya sebagai formasi batuan alami—Watu Sinom tetap hidup dalam "Peta Budaya" masyarakat kita.
Bagi warga Keniten, Watu Sinom bukan sekadar tumpukan batu, melainkan:
Simbol Perjuangan: Mengingatkan pada kegigihan Raden Kamandaka dalam menghadapi rintangan.
Identitas Desa: Menghubungkan silsilah leluhur kita, termasuk sosok Kamandaka, dengan narasi besar sejarah Jawa dan Sunda.
Pelestarian Budaya: Sebagai pengingat bagi generasi muda agar tidak lupa pada akar sejarah desa sendiri.
Pemerintah Desa Keniten terus berupaya menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam situs-situs lokal seperti Watu Sinom. Meskipun secara administratif situs ini dikategorikan sebagai warisan tradisi (bukan cagar budaya benda yang bersifat buatan manusia), nilai historis dan emosionalnya bagi warga Keniten tidaklah tergantikan.