Sistem Informasi Desa Keniten

Gambar Artikel

Putra Terbaik Banyumas dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Mengenal dr. Angka Prodjosoedirdjo dan dr. R.M. Goembrek

Keniten – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional, sebuah momentum bersejarah yang menandai lahirnya kesadaran nasional melalui organisasi modern pertama di Indonesia, yaitu Budi Utomo.

Di balik lahirnya organisasi tersebut, terdapat dua tokoh penting yang berasal dari wilayah Banyumas, yakni dr. Angka Prodjosoedirdjo dan dr. Raden Mas Goembrek (Gumbreg). Keduanya adalah dokter muda lulusan STOVIA yang tidak hanya berperan sebagai pendiri Budi Utomo, tetapi juga mengabdikan hidupnya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Nama mereka hingga kini diabadikan menjadi nama jalan utama di Purwokerto: Jalan Dr. Angka dan Jalan Dr. Gumbreg.


dr. Angka Prodjosoedirdjo

Bendahara Pertama Budi Utomo dan Pelopor Apotek Modern di Purwokerto

Masa Kecil dan Keluarga

Raden Angka Prodjosoedirdjo lahir pada 13 Desember 1887 di Madukara, Banjarnegara (saat itu masih termasuk wilayah Karesidenan Banyumas). Ayahnya bernama Prodjodiwirjo, seorang asisten wedana, sedangkan ibunya berasal dari keluarga terhormat di Banyumas. Sejak kecil, Angka diasuh pula oleh kakeknya dari pihak ibu, R. Santadiredja.

Lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan membentuk Angka menjadi pribadi disiplin, tekun, dan memiliki semangat belajar yang tinggi.

Pendidikan

Perjalanan pendidikan Angka sangat mengesankan:

  1. HIS (Hollandsch-Inlandsche School) selama tujuh tahun.

  2. HBS (Hoogere Burgerschool) selama lima tahun.

  3. Diterima di STOVIA di Batavia pada 4 Januari 1904.

Di STOVIA, ia bergaul dengan para pemuda intelektual yang kelak menjadi pelopor pergerakan nasional Indonesia.

Peran dalam Pendirian Budi Utomo

Pada 20 Mei 1908, Angka bersama delapan mahasiswa STOVIA lainnya mendirikan Budi Utomo.

Dalam kepengurusan awal, ia dipercaya sebagai bendahara pertama. Tugas ini menunjukkan besarnya kepercayaan rekan-rekannya terhadap integritas dan ketelitiannya.

Lulus dengan Predikat Cum Laude

Angka menyelesaikan pendidikan dokter di STOVIA pada 30 Juli 1912 dengan predikat cum laude. Prestasi ini menegaskan kualitas akademiknya yang sangat baik.

Karier Kedokteran

Setelah lulus, dr. Angka bertugas di berbagai daerah, antara lain:

  • Semarang

  • Purbalingga

  • Bogor

  • Pemalang

  • Brebes

  • Kendal

  • Banyumas

  • Purwokerto

  • Cilacap

Ia dikenal sebagai dokter rakyat yang mengutamakan pelayanan dan pendidikan kesehatan masyarakat.

Kehidupan Keluarga

dr. Angka menikah dengan R.A. Soedijah dan dikaruniai tujuh orang anak. Kehidupan keluarganya berjalan sederhana, namun penuh semangat pengabdian.

Peran Setelah Indonesia Merdeka

Setelah kemerdekaan, dr. Angka bersama rekan-rekan seprofesinya mendirikan Apotek Dwiwarna di Purwokerto, yang dikenal sebagai salah satu apotek pertama di Purwokerto setelah Indonesia merdeka. (Kompas)

Selain itu, ia tetap aktif membantu masyarakat dalam pelayanan kesehatan.

Wafat

dr. Angka Prodjosoedirdjo wafat di Purwokerto pada tahun 1975 dalam usia 88 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga di Sokaraja, berdampingan dengan makam istrinya.


dr. Raden Mas Goembrek (Gumbreg)

Diplomat Ulung Pendiri Budi Utomo

Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga

Raden Mas Goembrek lahir pada 28 Juni 1885 dari pasangan R.M. Padmokoesoemo dan R.A. Marsidah.

Ia berasal dari keluarga bangsawan dan keturunan pejabat tinggi Karesidenan Bagelen, yang pada masa itu meliputi Purworejo, Kebumen, sebagian Banyumas, dan Cilacap.

Pendidikan

Goembrek menempuh:

  1. ELS (Europeesche Lagere School) di Purworejo.

  2. Lulus pada tahun 1901.

  3. Diterima di STOVIA pada 25 Januari 1902.

Di STOVIA, ia dikenal cerdas, santun, dan memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik.

Peran dalam Pendirian Budi Utomo

Goembrek termasuk sembilan pendiri Budi Utomo.

Dalam kepengurusan awal, ia menjabat sebagai komisaris. Berbekal latar belakang keluarganya, ia dipercaya untuk menjalin pendekatan dengan para bupati agar mendukung Budi Utomo.

Peran diplomatis ini sangat penting bagi perkembangan organisasi pada masa awal.

Karier Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat

Setelah lulus sebagai dokter, Goembrek mengabdikan diri dalam pelayanan kesehatan.

Ia aktif mengedukasi masyarakat tentang:

  • Kebersihan lingkungan,

  • Sanitasi,

  • Pencegahan penyakit menular,

  • Pola hidup sehat.

Dedikasinya membantu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.

Kehidupan Setelah Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, dr. Goembrek tetap dikenal sebagai tokoh masyarakat yang dihormati. Walaupun tidak banyak terlibat dalam politik praktis, ia terus mengabdikan pengetahuan dan pengalamannya untuk kepentingan sosial.

Wafat

dr. R.M. Goembrek wafat pada 19 Januari 1968.

Sebagai bentuk penghormatan, namanya diabadikan menjadi Jalan Dr. Gumbreg di Purwokerto.


Kontribusi Besar Putra Banyumas bagi Indonesia

dr. Angka Prodjosoedirdjo dan dr. R.M. Goembrek membuktikan bahwa putra daerah Banyumas memiliki peran penting dalam sejarah bangsa.

Mereka berjuang melalui:

  • Pendidikan,

  • Organisasi modern,

  • Pelayanan kesehatan,

  • Dan pengabdian kepada masyarakat.

Nilai-nilai perjuangan mereka tetap relevan hingga saat ini.


Teladan bagi Masyarakat Desa Keniten

Sebagai warga Banyumas, masyarakat Desa Keniten dapat meneladani semangat kedua tokoh tersebut dengan:

Menjunjung Tinggi Pendidikan

Mendorong anak-anak untuk belajar sungguh-sungguh.

Mengutamakan Kesehatan

Menjaga kebersihan lingkungan dan aktif mengikuti kegiatan kesehatan desa.

Aktif Berorganisasi

Berpartisipasi dalam Karang Taruna, PKK, Posyandu, dan kegiatan kemasyarakatan.

Mengabdi Tanpa Pamrih

Memberikan kontribusi terbaik bagi desa dan bangsa.


Penutup

Sejarah Kebangkitan Nasional tidak hanya milik tokoh-tokoh besar dari ibu kota. Banyumas pun memiliki dua tokoh penting yang turut menyalakan api kebangkitan Indonesia: dr. Angka Prodjosoedirdjo dan dr. R.M. Goembrek.

Semoga kisah hidup mereka menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Desa Keniten untuk terus belajar, berkarya, menjaga kesehatan, dan mengabdi dengan tulus demi kemajuan desa, daerah, dan Indonesia.

Tulis Komentar