Sistem Informasi Desa Keniten
Keniten - Desa Keniten yang terletak di Kecamatan
Kedungbanteng, Banyumas, merupakan wilayah yang memiliki lapisan sejarah
agraris yang kuat, terutama karena letak geografisnya di kaki Gunung Slamet.
Dalam catatan peta topografi kolonial Belanda (Topographische Bureau)
awal abad ke-20, wilayah ini diidentifikasi sebagai zona penyangga hijau yang
krusial bagi distribusi irigasi di Karesidenan Banyumas. Kedekatannya dengan
pusat kekuasaan kuno Kadipaten Pasir Luhur menjadikan Keniten sebagai bagian dari
jejaring sosial-politik tradisional yang menghubungkan masyarakat pegunungan
dengan pusat pemerintahan di Purwokerto.
Secara toponimi, nama
"Keniten" diyakini berakar dari tradisi lisan yang merujuk pada
aktivitas niteni (menandai/mengingat)
berasal dari cerita rakyat tentang pertemuan Kamandaka dan Silihwarni di batu
besar yang bernama Watu Sinom, ada versi lain yang mengatakan bahwa nama
Keniten diambil dari nama tokoh yang diyakini sebagai "pendiri" desa
yaitu Raden Nitipraja. Pada masa transisi pasca-Perang Diponegoro (1830),
wilayah ini mengalami reorganisasi administrasi di bawah kendali pemerintah
Hindia Belanda, di mana struktur kepemimpinan lokal seperti Penatus atau Bekel mulai
diformalkan untuk memfasilitasi kebijakan pemungutan pajak tanah dan pengaturan
hasil bumi yang menjadi tumpuan ekonomi kolonial saat itu.
Masuk ke era Orde Lama hingga Orde Baru, Keniten bertransformasi
menjadi salah satu pilar ketahanan pangan di Kecamatan Kedungbanteng. Pada
dekade 1970-an, desa ini menjadi lokus implementasi program Bimbingan Massal
(Bimas) yang intensif, memanfaatkan limpahan sumber daya air alami untuk
mengoptimalkan lahan persawahan. Dokumentasi administratif dari periode ini
menunjukkan adanya pergeseran pola pemukiman yang semakin teratur serta
penguatan institusi perangkat desa sebagai perpanjangan tangan pembangunan
pemerintah pusat.
Dari sisi
sosiokultural, Keniten mempertahankan identitas budaya Banyumasan yang khas,
yang tercermin dalam sinkretisme nilai-nilai lokal dan tradisi Islam. Meskipun
modernisasi mulai merambah, jejak-jejak sejarah tua masih dapat ditemukan
melalui keberadaan situs-situs lokal dan ingatan kolektif masyarakat mengenai
tokoh-tokoh pembuka lahan (cikal bakal) desa.
Sebagai entitas yang terus berkembang, Keniten kini berdiri sebagai perpaduan
antara warisan sejarah agraris masa kolonial dan dinamika pembangunan desa
modern yang mandiri.